Followers

Saturday, October 30, 2010

Bintang dan Kamu

keempat tulisan ini (postingan ini dan 3 posting dibawahnya) hanya sekedar cerita fiksi yang saya tulis buat sebuah lomba menulis fiksi di Kilat! The Flash Fiction Challenge -nya Ubud Writers & Readers Festival. Karena dulu peraturannya yang gak ngijinin tulisan ini di post dimana aja dan karena berhubung festivalnya udah kelar, jadinya saya copy-paste aja di blog saya ini.. Umm, sebenernya sih karena ngeliat blog yang hampir berdebu karena lama tak dijamah, akhirnya saya meng-copypaste ini.. ihihihi :D
so enjoyy ^^
Desir angin pantai mulai terasa. Beradu dengan suara gulungan ombak yang menggulung. Warna senja di ufuk sana pun perlahan menghilang. Digantikan dengan keajaiban alam lainnya. Satu-satu benda indah di langit itu mulai membuka matanya. Kemudian berkedip-kedip, seolah bermain mata.

Kegelapan di langit yang kehilangan matahari kini gemerlap. Kita berdua duduk dibawahnya dan menikmatinya. Hanya bertumpu pada pasir dan bersandar pada angin. Memandangnya dalam diam. Mengaguminya, mungkin.

“Apa yang kamu suka dari bintang?” Tiba-tiba kau lontarkan pertanyaan itu. Mungkin karena kita membisu terlalu lama.

“Ummm, kamu tau kan gambar bintang? Dengan 5 titiknya?” Jawabku dengan berbalik bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari benda-benda dilangit itu.

“Hahaha.. Iya, aku tau. Tentu saja.”

“Itulah alasanku.”

Aku masih tak memindahkan pandanganku terhadap benda itu, tapi aku dapat merasakan kau mengalihkan pandanganmu kepadaku. Aku dapat merasakan sorot penasaran ketika aku mengatakan itu.

“Lima titik pada bintang itu seperti manusia. Satu titik diatas adalah kepala. Dua di kiri dan kanannya adalah tangan. Dan dua titik sisanya adalah kaki. Mungkin saat aku merasa sendiri dan melihat bintang, aku merasa ada yang menemani.”

Aku berhenti dalam kalimatku dan menyunggingkan sekilas senyum. Aku masih merasakan tatapanmu yang sepertinya melekat disisi kanan wajahku meskipun aku tetap tak melihat ke arahmu.

“Kamu tau? Meskipun di langit ada beberapa atau mungkin beribu bintang dan aku seperti mengamatinya secara menyeluruh. Tapi pada akhirnya pandanganku hanya jatuh ke satu bintang. Mungkin bintang itu………”

Aku kembali berhenti dalam kalimatku dan aku masih merasakan tatapanmu. Namun, kali ini aku mencari sorot matamu. Memandangnya. Membacanya. Memberi isyarat.

“Mungkin bintang itu Kamu.”



copied from here

Ku Mulai dengan Melukismu di Kanvasku

Ada satu bagian yang entah kenapa sulit sekali untuk memulai. Menggerakkan apa yang ada di otak untuk melangkah kesebuah tindakan pasti. Dulu aku pikir gampang buat mengambil tindakan, ternyata aku salah. aku kapok dengan ke-sok-beranianu untuk sok tau dalam melakukan suatu hal. Tapi aku harus berani mengambil keputusan ini. Memang aku merasa tak yakin sama keputusan yang bakal aku ambil tapi aku gak mau kehilangan. aku takut kehilangan untuk lebih dalam lagi.

Berdoa dan aku mencoba memulainya. Memulai untuk melangkah lagi. Memulai dengan mencoret sebuah nama. Bukan mencoretnya agar nama itu masuk ke dalam daftar hitamku. Tapi mencoretnya dalam bentangan kanvas. Ya, atau mungkin bisa disebut melukis. Awalnya aku hanya memainkan kuas dengan cat hitam. Malah, cat itu hampir kering. Namun, kemudian pemilik nama itu memberiku cat miliknya. Tak hanya hitam. Melainkan beribu warna.

Kini kanvas milikku telah berlukis namanya. Dengan beribu warna cat yang telah dia berikan kepadaku. Dan sebagai tanda terima kasihku kepadanya, ku kirimkan kanvas milikku ini dan kanvas putih bersih untuknya. Ku selipkan juga sebuah catatan kecil disitu.

“Ini namamu dalam lukisan kanvasku. Yang kulukis dengan cat milikmu. Yang artinya kau adalah warnaku. Dan ini kanvas putih milik kita. Yang artinya kau harus melukis bersamaku.”


copied from here

Kenapa Hanya Aku yang Berharap dan Menunggu ?

Malam ini, aku menunggu dibawah bintang bersama angin. Begitu juga dengan malam-malam sebelumnya. Kadang terhunyung oleh terpaannya. Tapi aku tetap tak bergeming, justru menikmatinya. Mungkin bintang-bintang itu ingin membisikkan sesuatu untukku melalui angin. Sesuatu tentang dirimu. Ohh, bukan.. atau mungkin itu kau yang mengirimkan pesan melalui angin? Aku harap begitu.

***

Pagi ini aku menunggumu dibawah terik sinar mentari. Begitu juga dengan pagi-pagi sebelumnya. Terkadang sengatannya begitu menyengat hingga ku basah bercucur keringat. Tapi aku tak mengeluh, justru menikmatinya. Mungkin sengatan ini ingin menghangatkanku dari dinginnya udara. Bagaikan sebuah pelukan. Ahh, atau mungkin itu kau, yang mengirimkan pelukanmu melalui hangatnya sengatan mentari? Aku harap begitu.

***

Sore ini, aku menunggumu dibawah warna emas langit senja. Warnanya halus, lembut, sangat mempesona. Terbentang dilangit bagaikan selimut yang ingin menggulung tubuhku. Sesaat ku merasa ini sempurna. Kemudian aku tak lagi menunggu karena kau tiba-tiba datang. Dan yang terasa adalah sangat sempurna. Tapi ada yang aneh. Kau berdiri begitu jauh dan matamu yang sayu mengisyaratkan sesuatu. Kau terpaku dan mulutmu seolah bergetar mengucapkan sesuatu, “Jangan menungguku. Jangan berharap lagi.”

Pandanganku kabur. Semacam ada awan hitam kini di depan mataku dan kau pun menghilang dibalik awan itu. Kini aku tau kenapa langit seolah seperti selimut. Ia ingin menyembunyikanku dari rasa ini. Menggulungku dalam selimut senja.


copied from here

I’m Just Stuck in My Past

Aku melepasmu bukan karena aku bosan. Aku melepasmu pun bukan karena aku marah. Aku hanya melihatmu bukan sebagai kamu, tapi sebagai dia. Potongan-potongan cerita yang kau buat denganku, tak lain sama dengan yang kubuat dengannya. Aku menyadarinya kini. Bukan dirimu yang ada di pikiranku. Bukan dirimu yang ada di hatiku.

“Kenapa ?”

Kalimat itu yang kau tanyakan pada akhirnya. Ketika ku jelaskan semua pun tetapi kata mengapa yang keluar dari mulutmu.

Aku terdiam dan menunduk. Bingung bagaimana mau menjelaskannya kembali. Sementara kau melihatku dengan sorot mata yang begitu tajam, dalam dan tak percaya.

15 menit. Aku masih menunduk dan terdiam. Kau pun masih menatapku.

35 menit. Kita masih dalam posisi yang sama

1 jam telah berlalu. Tak ada perubahan. Akhirnya kau ikut menunduk dan kita berdua menunduk. Menunggu.

Aku tau kau resah dengan keheningan ini dan aku pun resah dengan kebisuan ini. Aku tak tau mau mengatakan apa, tapi aku mencoba untuk membuka mulut ini. Hanya untuk menghilangkan keresahan diantara kita.

“Aku mencintaimu bukan seperti kamu mencintaiku. Aku mencintaimu untuk membawaku kembali ke masa lalu. Aku tak bisa bertahan mencintaimu kalau itu bukan kamu yang kucintai. Maaf, aku belum bisa lari dari masa laluku.”

Aku tidak mengerti apa kau mengerti yang kuucapkan. Hanya saja setelah itu kita kembali terdiam.


copied from here

Tuesday, October 12, 2010

Pilihan. Logika. Nurani. Percaya.

Hari ini ada satu kejadian yang mungkin membuat kaget banyak orang dikampus. Saya? Kaget, tapi tak seheran yang mungkin dipikirkan banyak orang. Karena saya sudah tahu terlebih dahulu. Ini tentang pengambilan sebuah keputusan. Antara tetap atau lepas. Pilihan.

Hidup memang memilih bukan? Dan ada satu hal yang saya bingungkan. Kenapa orang memilih memikirkan pilihan orang lain? Setiap orang berhak memilih apa yang mereka inginkan. Ya, saya tahu gak semua bisa kita pilih dengan sembarangan, seperti mengambil makanan di meja makan. Tapi, ketika seseorang dihadapkan kepada sebuah pilihan, pasti dia juga dengan susah payah untuk menentukan akan mengambil yang mana dan membuang yang mana, bukan begitu? Disini saya gak mau menyalahkan atau menyayangkan keputusan yang di ambil oleh temen saya atau justru sebaliknya, sama sekali tidak. Saya juga gak mendukung kebingungan dan ketidak setujuan yang muncul disetiap kepala yang melihatnya atau pun menentang apa yang mereka pikirkan, sama sekali tidak. Disini saya cuma mau yaa.. sedikit ngocehlah, tentang keputusan itu sendiri.

Seperti yang sudah saya bilang, saat dihadapi dengan sebuah keputusan, pasti ada semacam perperangan dalam diri kita yang mungkin setengah mati kita lakukan buat menemukan jawaban. Ada beberapa alasan yang mungkin kita pertimbangkan. Ada beberapa hal yang mungkin susah untuk dicerna. Ada beberapa hal yang membuat kita ingin melakukan sesuatu hal. Dan pilihan-pilihan tersebut gak akan dengan mudah diambil. Dua hal yang mungkin akan selalu kita gunakan adalah berpikir dengan logika dan mengikuti apa yang hati bilang. Tapi, sering kali kita hanya melakukannya dengan pikiran, dengan logika, kita cuma berpikir. Mungkin sering kali kita bilang kita udah ngikutin apa yang hati kita lakukan. Tapi sebenernya yang kita gerakkan hanya pikiran. Kita capek memikirkan sebuah langkah. Lelah memikirkan alasan. Pusing menyisihkan dan mengambil beberapa opsi. Nah, terkadang kita melupakan si nurani ini. Pernah dengar kata-kata seperti ini, "otak itu bisa menjadi setan, tapi nurani tetap akan menjadi malaikat". Saya juga lupa pernah dengar dimana, tapi rasanya saya pernah dengar. Nah, lalu kenapa otak bisa menjadi setan? mungkin karena otak selalu mendapat transferan macem-macem dari apa yang kita lewati. Perbincangan yang terdengar, pemandangan yang terlihat, pemikiran yang terlintas atau apa saja yang masuk kedalam otak dan semacam tersimpan. Nah, karena si otak menyimpan sebuah memori tentang apa aja itulah yang mungkin bisa mempengaruhi kita mengambil sebuah keputusan. Ada ingatan-ingatan yang bakal ikut campur, yang gak dari diri kita sendiri. Nah, mungkin itulah yang dimaksud kita juga harus menggunakan nurani. Karena, konon katanya, nurani adalah kata-kata Tuhan. Entah benar apa tidak, tapi menurut saya ini bener. Kenapa kita tidak mencoba melakukan keduanya. Memang untuk mengalahkan logika itu susah. Tapi kalau kita bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh nurani kita, mungkin apa yang dibisikkan merupakan hal terbaik. Sapa tau.

Dan menurut saya, kalau dilihat dari permasalah yang ada, ini adalah sebuah kepercayaan. keyakinan. Apa yang bisa kita lakukan lagi ketika seseorang percaya apa yang yang dilakukan adalah sebuah kebenaran untuk dirinya? Kepercayaan akan tindakannya dan ketika ia sudah meyakini bahwa beginilah dia seharusnya. Gak ada. Ini juga masalah prinsip. Kita gak mungkin dengan mudah mengakatan prinsip seseorang salah atau gak berprinsip. Pasti selalu ada alasan dibalik putar balik sebuah prinsip, langkah, tindakan yang dilakukan seseorang. Apalagi untuk hal ini, saya yakin dia memiliki alasan sendiri kenapa melakukannya. Dan kita gak boleh dengan enaknya memikirkan apa yang seharusnya orang lain lakukan. Mungkin banyak orang yang heran karena ketika seseorang yang terlihat dari luar atau seperti biasanya mempunyai prinsip yang kuat dan tegas tiba-tiba berbelok ketikungan yang lain, tapi mau gimana lagi (emm terkesan putus asa ya ini kata-katanya, ehehe). Gak semua yang terlihat di luar dapat membuat kita melihat kedalam.

Waahh, tulisannya kok udah sepanjang ini ya, padahal masi mau terus, apa saya bikin paper aja ya? itung-itung buat ngumpul tugas. :P hhaha sebenernya sih saya cuma mau ngoceh dikit aja, tapi kok malah jadi mulai melantur ngalur ngidul gak jelas gini ya tulisan ini.. mungkin karena sudah terlalu larut. Kalau gitu selamat malam. Sekali lagi, ketika nurani yang berkata maka tak ada yang bisa kita lakukan, ini tentang apa yang kita percaya benar. Otak memang berfikir, tapi nurani yang membisikkan sesuatu yang benar. Dan ketika kita gak mendengarkan nurani mungkin suatu saat ia akan bersuara dan menuntunmu kembali. :)